Pematangsiantar – Di tengah menjamurnya tempat kuliner kekinian, sebuah warung sederhana di pojok Jalan Diponegoro, Kelurahan Proklamasi, Kota Pematangsiantar, justru tetap bertahan dengan cara yang nyaris tak berubah.
Namanya Warung Jongkok, atau lebih akrab disebut warga sebagai Warjok.
Sejak pagi, aroma santan dan daun pandan sudah menguar dari warung tersebut. Asap tipis dari bubur kacang hijau panas perlahan naik, sementara pelanggan mulai berdatangan untuk menikmati sarapan dengan harga yang sangat bersahabat.
Pemandangan antrean bukan sesuatu yang asing di Warjok. Sejumlah pelanggan rela menunggu demi mendapatkan semangkuk bubur kacang hijau yang dibanderol hanya Rp5.000.
Bagi yang ingin menambah pulut, cukup merogoh kocek Rp3.000. Aneka gorengan juga tersedia dengan harga ribuan rupiah.
Murah, sederhana, tetapi justru di situlah daya tarik Warjok.
Warung ini bukan sekadar tempat mengisi perut. Bagi sebagian pelanggan, Warjok adalah tempat untuk kembali mengingat masa lalu.Bertahan Lebih dari Setengah Abad.Warjok mulai berdiri sejak 1972. Usaha sederhana tersebut awalnya dirintis oleh ayah Zulkarnaem.
Setelah sang ayah meninggal dunia, usaha tersebut kemudian diteruskan oleh Zulkarnaem. Kini, di usianya yang telah mencapai 62 tahun, ia masih setia mengurus warung tersebut.
Lebih dari lima dekade berlalu, Zulkarnaem memilih mempertahankan resep dan cara pelayanan yang diwariskan keluarganya.
“Dari dulu sampai sekarang, ya bangunannya gitu-gitu aja, rasanya juga nggak pernah beda,” ujar Zulkarnaem
sambil mengaduk bubur kacang hijau, Sabtu (8/8/2026)
Menurutnya, ada dua hal yang tidak boleh berubah di Warjok, yakni rasa dan pelayanan kepada pelanggan.
Kesederhanaan itu pula yang membuat Warjok tetap memiliki pelanggan dari berbagai generasi.
Mengapa Disebut Warung Jongkok?
Nama Warjok ternyata lahir dari kondisi sederhana ketika warung tersebut pertama kali dibuka. Saat itu, tempatnya sangat kecil dan belum memiliki kursi maupun meja seperti warung pada umumnya. Pelanggan yang datang harus menikmati makanan sambil jongkok.
Kebiasaan tersebut kemudian melekat hingga akhirnya masyarakat mengenalnya sebagai Warung Jongkok.
Nama yang awalnya muncul dari keterbatasan justru berubah menjadi identitas yang bertahan selama puluhan tahun.
Bubur Habis, Warung Langsung Tutup
Satu hal lagi yang membuat Warjok berbeda adalah jam operasionalnya.
Warung tersebut mulai buka sekitar pukul 07.00 WIB. Namun, pelanggan tidak bisa memastikan Warjok akan tetap buka hingga pukul 11.00 WIB. Sebab, jika seluruh makanan sudah habis, Zulkarnaem memilih menutup warung.
“Kalau sudah habis, saya tutup aja, nggak usah nunggu jam sebelas,” katanya santai.
Kondisi itu justru membuat pelanggan harus datang lebih pagi jika tidak ingin kehabisan. Pada Sabtu pagi, antrean terlihat mengular di depan warung. Semangkuk bubur kacang hijau panas menjadi menu yang paling banyak diburu.
Dari Masa SD hingga Anak Kuliah
Puluhan tahun bertahan membuat Warjok menyimpan begitu banyak cerita pelanggan.
Tidak sedikit orang yang datang bukan sekadar untuk makan, tetapi sengaja membawa anak atau keluarganya untuk mengenalkan tempat yang pernah menjadi bagian dari masa kecil mereka.
Ada pelanggan yang mengaku dahulu datang ketika masih duduk di bangku sekolah dasar. Kini, setelah puluhan tahun berlalu, anaknya bahkan sudah duduk di bangku kuliah.
Cerita semacam itu menjadi pemandangan yang biasa bagi Zulkarnaem.
Warjok seolah menjadi titik temu antara masa lalu dan masa kini.
Salah seorang pelanggan, Andra (40), bahkan mengaku memiliki kenangan khusus dengan warung tersebut.
Sambil menikmati bubur kacang hijau hangat ditemani pisang goreng, ia kembali mengingat masa mudanya.
“Rasanya nggak pernah berubah. Dulu sering makan di sini bareng teman, saudara, bahkan sama pacar yang sekarang jadi istri,” ujar Andra sambil tertawa.
Bagi Andra, perubahan zaman tidak menghilangkan rasa yang melekat pada Warjok.Bukan Sekadar Bubur Kacang Hijau.
Di tengah persaingan kuliner modern yang menawarkan berbagai konsep dan menu kekinian, Warjok justru memilih tetap menjadi dirinya sendiri.
Tidak ada dekorasi mewah. Tidak ada menu yang berlembar-lembar. Tidak pula ada harga yang membuat pelanggan harus berpikir panjang sebelum memesan.
Yang ditawarkan Warjok hanyalah makanan sederhana, rasa yang konsisten, harga murah dan keramahan pemiliknya.
Namun, bagi pelanggan yang telah datang sejak puluhan tahun lalu, nilai Warjok jauh lebih besar daripada sekadar semangkuk bubur.
Warjok adalah tempat di mana kenangan masa kecil bisa kembali hadir. Tempat di mana pelanggan lama masih bisa bertemu dengan rasa yang sama seperti puluhan tahun lalu.
Di pojok Jalan Diponegoro itu, waktu seakan berjalan lebih lambat.
Sementara dunia kuliner terus berubah dengan tren baru, Warjok tetap bertahan sejak 1972.
Semangkuk bubur kacang hijau Rp5.000 di Warjok mungkin terlihat sederhana. Tetapi bagi banyak orang, di dalam semangkuk bubur itu tersimpan puluhan tahun kenangan yang tidak bisa dibeli dengan uang. ( Herry Sinaga)
