Pematangsiantar – Aktivitas kendaraan pengangkut pupuk kembali menimbulkan persoalan bagi pengguna jalan di Kota Pematangsiantar. Lima unit truk berukuran panjang yang hendak mengantarkan pupuk ke salah satu gudang di Jalan Mataram Satu membuat arus lalu lintas di Jalan Ade Irma terganggu.
Pantauan di lokasi, kendaraan pengangkut pupuk tersebut memiliki ukuran cukup besar dengan panjang hampir 15 meter. Dalam jumlah mencapai lima unit, keberadaan truk yang melintas dan melakukan manuver menuju lokasi gudang membuat ruang gerak kendaraan pengguna jalan menjadi terbatas.
Kondisi tersebut berdampak pada tersendatnya arus lalu lintas. Pengendara yang melintas harus memperlambat laju kendaraannya sehingga kemacetan pun tak terhindarkan.
Situasi ini dikeluhkan warga yang setiap hari menggunakan ruas Jalan Ade Irma. Mereka menilai aktivitas distribusi barang semestinya tidak sampai mengganggu kepentingan pengguna jalan lainnya.
“Maunya kalau mau masuk ke sini pakai truk kecil, agar tidak mengganggu pengguna jalan. Apalagi dengan kondisi truk yang panjang dan melintas sekali banyak,” kata seorang warga, Lela, Sabtu (8/8/2026)
Menurutnya, penggunaan kendaraan berukuran besar dalam jumlah banyak pada ruas jalan tersebut seharusnya turut mempertimbangkan kondisi dan kepadatan lalu lintas.
“Kalau satu mungkin masih bisa dimaklumi. Tapi kalau sampai lima truk sekaligus, tentu pengguna jalan terganggu,” ujarnya.
Persoalan ini juga menimbulkan pertanyaan mengenai pengaturan aktivitas bongkar muat dan distribusi pupuk yang menuju gudang di kawasan Jalan Mataram Satu. Sebab, aktivitas kendaraan berat yang masuk ke kawasan perkotaan berpotensi mengganggu kelancaran lalu lintas apabila tidak diatur dengan baik.
Warga berharap pihak terkait, khususnya instansi yang memiliki kewenangan terhadap lalu lintas dan aktivitas kendaraan angkutan barang, dapat melakukan pengawasan.
Mereka meminta agar distribusi pupuk tetap berjalan, namun tidak mengorbankan kenyamanan dan keselamatan pengguna jalan.
Jika aktivitas kendaraan besar tersebut memang harus berlangsung, pengaturan waktu maupun penggunaan kendaraan dengan ukuran yang lebih sesuai dinilai dapat menjadi solusi agar kemacetan tidak kembali terjadi.
Jangan sampai aktivitas distribusi barang yang seharusnya mendukung kebutuhan masyarakat justru menimbulkan persoalan baru bagi masyarakat pengguna jalan.(Herry Sinaga)
