JAKARTA – Ketua Institute Law And Justice (ILAJ), Fawer Sihite, mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjaga kualitas demokrasi dengan menghormati perbedaan pandangan, termasuk dalam menyikapi perkembangan kasus yang melibatkan Febrie Adriansyah.
Menurut Fawer, Indonesia adalah negara demokrasi yang menjamin kebebasan setiap warga negara untuk menyampaikan pendapat. Oleh karena itu, adanya perbedaan sikap, baik yang mendukung maupun yang mengkritisi suatu perkara, merupakan hal yang wajar selama disampaikan secara bertanggung jawab.
“Indonesia adalah negara demokrasi. Karena itu, kalau kita memiliki perbedaan sikap terhadap kasus Febrie Adriansyah, silakan saja. Perbedaan pendapat adalah bagian dari kehidupan demokrasi yang harus kita hormati bersama,” ujar Fawer, Sabtu.
Namun demikian, Fawer mengingatkan bahwa kebebasan berpendapat bukan berarti bebas melakukan penghinaan, penyebaran ujaran kebencian, fitnah, maupun serangan terhadap kehormatan pribadi seseorang melalui media sosial.
“Yang harus kita junjung tinggi adalah etika bermedia sosial. Bertutur kata hendaknya penuh sopan santun, mengedepankan fakta, serta menghormati martabat setiap orang. Jangan sampai ruang digital dipenuhi caci maki yang justru merusak kualitas demokrasi kita,” tegasnya.
Fawer menilai media sosial seharusnya menjadi ruang untuk berdiskusi secara sehat dan membangun, bukan arena saling menghina atau menghakimi. Menurutnya, kritik yang disampaikan dengan bahasa yang santun akan lebih bermartabat dan lebih mudah diterima oleh publik.
Ia juga mengajak masyarakat untuk menghormati proses hukum yang sedang berjalan serta menghindari penyebaran informasi yang belum dapat dipastikan kebenarannya. Dalam negara hukum, setiap perkara harus diselesaikan melalui mekanisme hukum yang berlaku dengan tetap menjunjung tinggi asas keadilan.
“Marilah kita menjaga demokrasi Indonesia dengan budaya berdiskusi yang sehat, saling menghormati, dan mengedepankan adab dalam setiap perbedaan pendapat. Demokrasi yang berkualitas lahir dari masyarakat yang dewasa dalam berpikir, santun dalam berbicara, dan bijak dalam menggunakan media sosial,” tutup Fawer. (TIM)
