Simalungun, Lencanagaruda.com – Upaya menemukan kasus tuberkulosis (TB) secara dini terus dilakukan Pemerintah Kabupaten Simalungun. Dalam kegiatan skrining yang digelar di Kecamatan Jawa Maraja Bah Jambi, sebanyak 37 dari 90 warga yang diperiksa dinyatakan sebagai terduga TB.
Kegiatan tersebut berlangsung di Kantor Pangulu Jawa Maraja, dan merupakan bagian dari skrining TB yang diintegrasikan dengan program Cek Kesehatan Gratis (CKG), Jumat (25/9/2026).
Puluhan warga yang mengikuti pemeriksaan tidak hanya menjalani skrining terkait TB. Tim dari Dinas Kesehatan Kabupaten Simalungun bersama Puskesmas Jawa Maraja juga melakukan sejumlah pemeriksaan kesehatan, di antaranya tekanan darah, gula darah dan asam urat.
Bagi warga yang masuk kategori terduga TB, petugas kemudian mengambil sampel dahak untuk menjalani pemeriksaan bakteriologis menggunakan Tes Cepat Molekuler (TCM).
Kepala Bidang Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Simalungun, Rosman Saragih, yang juga Ketua Tim Skrining TB Terintegrasi CKG, mengatakan deteksi dini menjadi bagian penting dalam memutus mata rantai penularan TB.
Menurutnya, masyarakat yang memiliki kontak erat atau tinggal serumah dengan penderita TB perlu mendapat perhatian khusus. Begitu pula warga yang mengalami gejala maupun memiliki faktor risiko tertular.
“Penularan bakteri TB terjadi melalui percikan dari saluran pernapasan penderita. Risikonya dapat meningkat pada lingkungan padat dan kurang sehat, terlebih bagi orang yang tinggal serumah atau sering berinteraksi dekat dengan penderita,” kata Rosman.
Ia mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan gejala yang berlangsung cukup lama.
Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain batuk selama dua minggu atau lebih, berat badan menurun, demam berkepanjangan, nafsu makan berkurang, berkeringat pada malam hari tanpa sebab yang jelas serta tubuh yang terus terasa lemas.
“Kalau mengalami gejala tersebut, segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat. Jangan menunggu kondisi semakin berat,” imbaunya.
Rosman menyebutkan sejumlah kelompok memiliki risiko lebih tinggi tertular TB, antara lain perokok aktif, anak-anak, lanjut usia, penderita diabetes dan penderita HIV. Kondisi lingkungan dengan kepadatan penduduk tinggi dan sanitasi yang kurang baik juga dapat meningkatkan risiko penularan.
Meski demikian, Rosman menegaskan TB bukan penyakit yang tidak dapat disembuhkan. Dengan diagnosis yang tepat dan pengobatan secara teratur sampai selesai, pasien TB dapat dinyatakan sembuh.
Diagnosis TB dilakukan melalui pemeriksaan bakteriologis dan dapat didukung pemeriksaan X-ray. Bagi pasien yang telah dinyatakan positif, pengobatan harus dijalani secara disiplin sesuai petunjuk tenaga kesehatan.
“Jangan ragu dan jangan bimbang. TB dapat disembuhkan. Mari kita bersama-sama menemukan, mengobati dan memastikan pengobatan sampai tuntas,” katanya.
Selain menemukan terduga TB, kegiatan tersebut juga dimanfaatkan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap penyakit tidak menular. Warga didorong untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin di fasilitas pelayanan kesehatan.
Dinas Kesehatan Kabupaten Simalungun sendiri menargetkan skrining TB dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas. Tim kesehatan telah disiapkan untuk melaksanakan kegiatan di 228 titik lokasi di seluruh wilayah Kabupaten Simalungun.
Lokasi skrining tidak hanya menyasar kawasan permukiman, tetapi juga tempat-tempat yang memiliki kelompok masyarakat dengan risiko penularan, termasuk lembaga pemasyarakatan. ( Herry Sinaga )
