LencanaGaruda
Kamis, 4 Juni 2026
No Result
View All Result
  • News
    • Peristiwa
    • Regional
    • Nasional
    • Dunia
  • Sport
  • Ekonomi
  • Wisata
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Tekno
LencanaGaruda
No Result
View All Result
LencanaGaruda
No Result
View All Result
  • News
  • Peristiwa
  • Regional
  • Nasional
  • Dunia
  • Bisnis
  • Seleb
  • Sport
  • Tekno
  • Wisata
Home News Regional
Atas: Moderator, Gideon Surbakti (kiri), Andry Napitupulu dan Agus Butarbutat (tengah) dan Astronout Nainggolan (kanan) & Bawah: Peserta diskusi. (Foto: MN/Red. Lencana Garuda)

Atas: Moderator, Gideon Surbakti (kiri), Andry Napitupulu dan Agus Butarbutat (tengah) dan Astronout Nainggolan (kanan) & Bawah: Peserta diskusi. (Foto: MN/Red. Lencana Garuda)

Refleksi Sumpah Pemuda, GMMUR Gelar Diskusi Desakan Rakyat Kepada Wali Kota Siantar Terhadap Revitalisasi Pasar Horas Gedung IV

Redaksi by Redaksi
30/10/2025
in Regional

Pematangsiantar (Sumut) – Dalam rangka Hari Sumpah Pemuda ke 97 tahun 2025, dan sebagai refleksi Sumpah Pemuda, Gerakan Mahasiswa Merdeka Untuk Rakyat (GMMUR) menggelar acara Diskusi bertajuk “Desakan Rakyat Kepada Wali Kota Pematangsiantar” dengan tema: “Mendesak keseriusan Wali Kota Pematangsiantar Terhadap Revitalisasi Pasar Horas Gedung IV” pada Selasa (28/10/2025) di Warkop Merdeka, Jalan S.K.I Kelurahan Aek Nauli Kecamatan Siantar Selatan, Kota Pematangsiantar.

Dalam diskusi tersebut, pembicara yang diundang adalah (1) Andry Napitupulu (aktivis mahasiswa Kota Pematangsiantar); (2) Astronout Nainggolan (mantan anggota DPRD Kota Pematangsiantar periode 2019 – 2024); dan (3) Agus Butarbutar (Ketua Kelompok Pedagang Pasar Horas/KP2H).

Acara diskusi ini diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan “Indonesia Raya” – Hening Cipta, pengucapan Sumpah Pemuda dan Doa.

Untuk menggugah hati dan menggelorakan semangat para pemuda dan mahasiswa khususnya yang saat itu hadir dalam diskusi, serta seluruh peserta diskusi, turut juga dinyanyikan lagu “Buruh Tani” dan “Darah Juang”.

Selanjutnya, Ketua Panitia DiKusi, Michael Siahaan (mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Simalungun) dalam laporannya selain menyambut kehadiran tamu undangan dan seluruh peserta rapat, ia juga mengatakan bahwa acara ini diselenggarakan untuk mendiskusikan suatu situasi dan kondisi yang sedang terjadi di Kota Pematangsiantar saat ini, yaitu masalah yang muncul pasca terbakarnya Gedung IV Pasar Horas Kota Pematangsiantar.

Senada, Gideon Surbakti, Ketua GMMUR yang juga sebagai moderator, sebagai pembuka dan pengantar materi diskusi mengatakan kalau topik ini sengaja diangkat untuk dibahas dalam diskusi sebab setelah diamati sekian lama, terkesan bahwa Pemerintah Kota Pematangsiantar yang notabene dipimpin oleh Wali Kota Pematangsiantar, Wesly Silalahi, terkesan tidak serius menangani permasalahan yang terjadi pasca terbakarnya Gedung IV Pasar Horas tersebut. Misalnya, selain lokasi Pasar Horas jadi semerawut, baik karena bekas bangunan yang terbakar, lalulintas yang macet, pedagang yang tidak teratur karena masih ditempatkan di lokasi pasar darurat.

“Sampai kapan kondisi ini dibiarkan terus? Makanya kita ambil topik ini untuk dibahas dan didiskusikan karena topik ini termasuk masalah yang urgent yang sedang terjadi di Kota Pematangsiantar yang sudah sangat mendesak untuk dituntaskan,” ujar Gideon Surbakti

“Kiranya melalui diskusi ini, selain kondisi masalah bisa semakin mengerucut (tidak makin mengambang) beberapa alternatif solusi pun kiranya dapat ditemukan untuk kemudian diajukan sebagai rekomendasi kepada Wali Kota Pematangsiantar, Wesly Silalahi,” imbuh Gideon Surbakti yang juga sebagai moderator dalam diskusi tersebut.

Selanjutnya, sebagai pembicara pertama yang menyampaikan materi diskusi, Agus Butarbutar mengatakan bahwa pasca kebakaran Gedung IV Pasar Horas banyak menimbulkan gesekan-gesekan khususnya di kalangan para pedagang. Apalagi bila Pemerintah Kota (Pemko) masih berkutat pada solusi yang saat ini masih dijalankan, yaitu pasar darurat.

“Permasalahan yang muncul pasca kebakaran akan semakin kompleks bila tidak sesegera mungkin dituntaskan,” ujar Agus Butarbutar.

“Berbagai usaha telah kita lakukan, bahkan hingga ke tingkat provinsi. Pak Bobby Nasution, Gubernur Sumatera Utara, juga telah menawarkan alternatif solusi, yaitu berupa bantuan pinjaman dari Bank Sumut yang besarannya sekitar Rp70-an miliar, dengan pola pembayaran dibagi dua (Pemko Pematangsiantar dan Pemprov. Sumatera Utara). Tapi nyatanya, Pemko Pematangsiantar bergerak lamban, dan tidak langsung bergerak jemput bola ke Provinsi. Lalu, sampai kapan masalah Pasar Horas ini bisa tuntas? Sampai kapan para pedagang dibiarkan dengan masalah dan derita mereka yang sepertinya tidak akan kunjung selesai. Jangankan untuk tuntas, untuk bertemu Wali Kota saja pun sangat sulit,” papar Agus tegas.

Kemudian, Astronout Nainggolan – pembicara (narasumber) kedua – dalam sajian materi diskusinya, ia memaparkan bahwa ia setuju kalau Pasar Horas itu dibangun masih di tempat yang sama, tetapi dengan catatan, sebaiknya dibangun dengan pola, konsep, dan tatanan semi modern, baik dari disain arsitekturnya, maupun operasionalnya sebagai jantung perekonomian masyarakat Kota Pematangsiantar.

“Pasar Horas itu, kan, berdiri di tengah kota, jadi sebaiknya dibangun dengan konsep semi modern, baik secara arsitektur fisik bangunan, juga pola operasionalnya kelak. Karena Pasar Horas juga sebagai jantung pergerakan ekonomi publik di Kota Pematangsiantar. Jadi, harus ditata dengan serius, konsep yang pas, dan pikirkan juga manfaatnya hingga ke masa depan,” ujar Astronout.

“Selain itu,” lanjut Astronout, “untuk pengurus atau pengelola Pasar Horas, sebaiknya dipilih orang-orang yang benar. Orang-orang yang benar-benar tahu kondisi Pasar Horas, dan paham soal pengelolaan pasar. Jadi jangan asal unjuk saja,” tegas Astronot.

Menanggapi solusi yang ditawarkan oleh Pemprov, Astronout mengatakan sebaiknya dana yang diperlukan untuk pengelolaan Pasar Horas disesuaikan dengan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor: 54 Tahun 2017 Tentang Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), di mana dalam PP tersebut dinyatakan bentuk BUMD terdiri dari dua jenis, yaitu Perusahaan Umum Daerah (Perumda) dan Perseroan Daerah (Perseroda). Lalu untuk Pasar Horas sebaiknya dibuat dalam bentuk Perseroda sehingga terbuka peluang kepada banyak pihak untuk menanamkan modal (saham atau investasi). Jadi dana modal pengelolaan tidak melulu hanya mengandalkan APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) seperti untuk perusahaan yang berbentuk Perumda.

“Jadi, alternatif yang ditawarkan oleh Gubernur boleh diminta agar dirubah, tidak lagi dalam bentuk pinjaman, tapi dalam bentuk saham, baik saham dari Pemprov maupun dari Bank Sumut,” imbuh Astronout.

“Bahkan investasi atau saham dari pihak swasta pun bisa terbuka, seperti dari STTC sebagai perusahaan terbesar yang ada di Kota Pematangsiantar dan perusahaan-perusahaan lain,” imbuh Astronout.

Lalu Andry Napitupulu sebagai pembicara ketiga, dalam sajian materi diskusinya memaparkan, sudah saatnya para pemuda, generasi muda, teristimewa mahasiswa berani menyuarakan perjuangan untuk kemaslahatan dan kesejahteraan masyarakat. Selain berani, para mahasiswa juga harus konsisten mengawal kebijakan-kebijakan yang sudah diambil oleh Pemerintah, baik daerah maupun pusat, hingga ke implementasi atau pelaksanaan kebijakan-kebijakan tersebut.

Terkait masalah Pasar Horas, khususnya Gedung IV yang terbakar beberapa waktu lalu, yang banyak menimbulkan masalah terutama kepada para pedagang di sana, Andry Napitupulu dengan penuh harap namun dengan nada tegas mengatakan agar mahasiswa jangan berhenti. Teruslah berjuang. Para pedagang dengan jumlah ratusan itu, yang telah menjadi korban adalah para orang tua kita yang juga berjuang untuk anak-anak mereka yang sedang dalam pendidikan, yang ada juga mahasiswa.

“Akankah kita biarkan mereka (para pedagang) yang telah menjadi korban dan harus menderita oleh masalah yang berlarut-larut dan tak kunjung diselesaikan dengan serius?” seru Andry.

“Melalui diskusi ini, kita kerucutkan masalah, kita beri rekomendasi solusi, kita sampaikan kepada Pemko, dalam hal ini Wali Kota, lalu kita kawal terus tindak lanjut yang mereka lakukan. Intinya, desakan kita saat ini, revitalisasi Gedung IV Pasar Horas agar segera dilaksanakan. Itu dulu tahap awal. Dan ini harus diseriuskan, bukan main-main lagi,” tegas Andry.

Usai pemaparan materi diskusi oleh para pembicara, lanjut ke acara tanya jawab.

Di bagian acara tanya jawab ini, para pembicara menjawab tiga penanya, Yosia Sinaga dan Desy Siregar (mahasiswa), dan Nainggolan (masyarakat).

Dari jawaban-jawaban pembicara atas pertanyaan-pertanyaan dari ketiga penanya, pada intinya menyatakan bahwa saat ini sudah waktunya untuk memulai suatu program dengan perencanaan yang baik dan matang, pelaksanaan yang serius dan konsisten, serta kontribusi untuk kesejahteraan rakyat sebesar mungkin. Sudah saatnya Pasar Horas dibangun dengan arsitek semi modern dengan memperhatikan estetika yang sesuai dengan kondisi sekitar dan dengan pola operasional pasar tradisional yang bersih, nyaman, dan tertib.

Di sela-sela materi acara diskusi tersebut, ada satu sesi yang sungguh membuat suasana menjadi menarik dan terkesan, yaitu dengan hadirnya perwakilan pedagang Pasar Horas, khususnya para pedagang yang selama ini telah menjadi korban pasca kebakaran yang telah menghanguskan Gedung IV Pasar Horas beberapa waktu lalu.

Seorang ibu boru Tampubolon, sebagai pembicara yang mewakili para pedagang Gedung IV Pasar Horas yang telah menjadi korban yang hadir di acara diskusi tersebut mengungkapkan kalau mereka selama ini sudah cukup menderita sebagai akibat dari permasalahan yang muncul, berlarut-larut dan tak kunjung diselesaikan.

“Kami punya penghasilan dari penjualan selama ini, tapi kini menjadi nol sama sekali. Apalagi saat ini kami ditempatkan di lapak-lapak darurat, makin bertambahlah derita kami,” ujar ibu boru Tampubolon.

“Ditambah lagi dengan adanya pungutan-pungutan liar yang terjadi kepada para pedagang. Bukankah ini semakin menambah derita kami para pedagang yang menjadi korban? Sampai kapan nasib kami bisa berubah? Sampai kapan masalah Pasar Horas ini bisa selesai? Jadi kepada Pak Wali Kota, tolonglah! Seriuslah! Selesaikanlah masalah ini. Sudah cukuplah kami menderita, jangan lagi berkepanjangan,” tegas ibu boru Tampubolon.

“Kami sudah tiga bulan tidak di bawah naungan PDPHJ (Perusahaan Daerah Pasar Horas Jaya. Sekarang di bawah naungan Pemko, tapi yang terjadi hanya pembohongan. Mereka hanya membuat permainan termasuk registrasi KIP (Kartu Identitas Pedagang-Red). Lalu, uang yang selama ini selalu kami bayar, kemana? Kami tidak tahu kemana itu digunakan,” tambah Ibu Tampubolon.

Dalam acara tersebut turut jiga dari perwakilan Pemko atau yang mewakili Wali Kota Pematangsiantar, yaitu dari Bagian Organisasi dan Perekonomian. Namun keberadaan mereka di acara tersebut tidak lama berhubung masih ada tugas-tugas yang harus diselesaikan di kantor.

Sebagai perwakilan Pemerintah, sebelum meninggalkan tempat acara, mereka menyampaikan dua hal, yaitu: (1) pemberitahuan dan permohonan maaf wali kota karena tidak bisa hadir di acara tersebut berhubung ada tugas lain; (2) apabila ada rekomendasi sebagai hasil dari acara diskusi agar dapat diajukan secara tertulis kepada Pemko untuk kemudian ditindaklanjuti setela melalui prosedur pertimbangan yang matang dan benar.

Sementara, GMMUR – organisasi mahasiswa – sebagai penyelenggara diskusi tersebut menyatakan dengan tegas tekad yang akan mereka lakukan untuk tetap mengikuti dan mengawal rekomendasi hasil diskusi yang akan disampaikan kemudian kepada Wali Kota Pematangsiantar, Wesly Silalahi untuk segara ditindaklanjuti.

Dari amatan awak media ini, langsung di lokasi acara, terlihat jelas dari awal hingga selesai, keseluruhan berlangsung lancar, tertib, serius dan santai. Walau diselenggarakan di tempat yang sangat sederhana, dan terlaksana dengan sederhana juga, makna diskusi yang berlangsung sangat serius, faktual, dan dengan suasana diskusi yang hangat, jelas terlihat sangat positif.

Marolop Nainggolan/Ed. MN

Tags: Headline
ShareTweetSendSharePin

Berita Terkini

News

KNPI Simalungun Apresiasi Pemkab Simalungun Pertahankan Opini WTP dari BPK RI

31 Mei 2026 | 18:40 WIB
News

Pemkab Simalungun Raih Opini WTP dari BPK Tahun Anggaran 2025, ILAJ: Bupati, Sekretaris Daerah dan Inspektorat Layak di Apresiasi

31 Mei 2026 | 18:28 WIB
News

Minta Publik Tidak Menghakimi Kajari Medan, Ketua ILAJ Sebut Ridwan Sujana Angsar Dikenal Berdedikasi Baik

30 Mei 2026 | 12:10 WIB
News

Ketua ILAJ Fawer Sihite Apresiasi Satgas PKH dan TNI AL Gagalkan Penyelundupan Minerba Radioaktif Bernilai Triliunan Rupiah

27 Mei 2026 | 22:05 WIB
News

ILAJ Resmi Laporkan Camat, Sekcam & Bendahara Kecamatan Tapian Dolok ke Kejari Simalungun Atas Dugaan Korupsi Anggaran Tahun 2023

26 Mei 2026 | 23:02 WIB
News

Mantan Kepala Unit Totap Majawa Bulan Lalu Dilaporkan ke Polres, Hari Ini Dengan Kasus Berbeda ILAJ Laporkan Lagi ke Kejaksaan Simalungun

26 Mei 2026 | 22:05 WIB
News

Ketua ILAJ Fawer Sihite Minta Kapolres Simalungun & Kasat Reskrim Serius Tangani Dugaan Pungli PDAM Totap Majawa

26 Mei 2026 | 12:51 WIB
News

Ketua Institute Law And Justice Fawer Sihite Dukung Pernyataan Hinca Panjaitan Soal Penguatan Status Kajati Daerah Khusus Jakarta

24 Mei 2026 | 22:26 WIB
News

Aksi “Makzulkan Walikota” Menggema di Siantar, Massa Soroti Dugaan Korupsi dan Gagal Program

19 Mei 2026 | 21:03 WIB
News

TANGIS PILU Ibu Pendeta Ospina Sitohang yang Suaminya Diduga Dikriminalisasi: Dia Korban Politik

18 Mei 2026 | 13:10 WIB
News

ILAJ Minta Polda Sumut Periksa Bupati dan Kadis Pendidikan Terkait Dugaan Transaksional Jabatan Kepala Sekolah Rp80 Juta

18 Mei 2026 | 12:49 WIB
News

ILAJ Desak BPK Audit Pemeliharaan LPJU Samosir, Fawer Sihite: Ada Dugaan Pungli dan Manipulasi Anggaran

16 Mei 2026 | 14:45 WIB
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Policy
  • Terms

© 2024 LENCANAGARUDA.COM

rotasi barak berita hari ini danau toba

No Result
View All Result
  • News
    • Peristiwa
    • Regional
    • Nasional
    • Dunia
  • Sport
  • Ekonomi
  • Wisata
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Tekno

© 2024 LENCANAGARUDA.COM

rotasi barak berita hari ini danau toba