Simalungun, Lencanagaruda.com – Kasus dugaan pengeroyokan terhadap dua pelajar SMK Negeri 1 Raya mengundang perhatian. Kedua siswa kelas XII itu disebut menjadi korban kekerasan yang dilakukan puluhan pelajar SMA Negeri 1 Dolok Pardamean di kawasan Tigaras, Kabupaten Simalungun.
Peristiwa tersebut terjadi pada Jumat (28/08/2026). Dua korban diketahui bernama Sahat Gabe Marbun dan Raja Kores Pardingatan Sinaga, yang merupakan siswa kelas XII jurusan Teknik Sepeda Motor (TSM) SMK Negeri 1 Raya.
Akibat kejadian itu, kedua korban mengalami luka-luka hingga harus mendapatkan perawatan medis. Keluarga menyebut kondisi keduanya kini masih dibayangi trauma.
Kerabat korban, Benni Damanik, mengatakan kondisi psikologis tersebut bahkan membuat kedua siswa belum berani kembali menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL).
“Sekarang korban memang sedang PKL, cuma sampai sekarang mereka belum berani ke tempat PKL karena masih trauma,” ujar Benni, Selasa (1/09/2026).
Benni menuturkan, kejadian bermula ketika Sahat dan Raja hendak menuju kawasan Salbe, Tigaras, untuk berlibur.
Namun, perjalanan keduanya berubah menjadi petaka setelah diduga diserang sekelompok pelajar.
Menurut keterangan yang diterima keluarga, korban bahkan diduga mengalami kekerasan ketika masih berada di atas sepeda motor.
“Mereka masih di atas sepeda motor sudah ditendang. Sepeda motornya juga sempat disembunyikan,” ungkapnya.
Yang membuat keluarga semakin prihatin, dugaan pengeroyokan disebut tidak berhenti di satu lokasi.
Kedua korban diduga dibawa ke sejumlah tempat dan kembali mengalami kekerasan.
Diduga Terjadi di Tiga Lokasi
Benni menyebut jumlah pelajar yang terlibat dalam aksi tersebut diperkirakan mencapai sekitar 30 orang.
Pengeroyokan disebut berlangsung di tiga lokasi berbeda, yakni Jalan Besar Tigaras, kawasan Salbe, hingga sekitar Pelabuhan Tigaras.
“Mereka dikeroyok sekitar 30 pelajar di tiga tempat berbeda. Pertama di Jalan Besar Tigaras, lalu di Salbe dan terakhir di sekitar Pelabuhan Tigaras,” katanya.
Ia menjelaskan, Raja disebut menjadi korban pertama yang mengalami kekerasan. Setelah itu, Sahat juga diduga menjadi sasaran.
Keduanya kemudian mengalami luka dan sempat menjalani perawatan di rumah sakit.
“Dua-duanya parah dan sempat dirawat di rumah sakit. Yang pertama disiksa Raja, baru Sahat,” ujar Benni.
Tak lama setelah mengetahui kejadian tersebut, ayah Raja Kores, Walmer Diwan Sinaga, mendatangi Polres Simalungun untuk membuat laporan.
Laporan tersebut dibuat pada Jumat (28/08/2026) sekitar pukul 18.59 WIB.
Berdasarkan Surat Tanda Penerimaan Laporan (STPL), laporan tercatat dengan nomor LP/B/393/VIII/2026/SPKT/Polres Simalungun/Polda Sumatera Utara.
Dalam laporan tersebut, peristiwa yang dilaporkan berkaitan dengan dugaan tindak pidana perlindungan anak.
Walmer disebut mengetahui kejadian setelah memperoleh informasi mengenai dugaan pengeroyokan terhadap anaknya. Keluarga juga memiliki rekaman video yang disebut memperlihatkan peristiwa kekerasan tersebut.
Keluarga korban berharap laporan tersebut segera ditindaklanjuti kepolisian. Benni mengatakan, sejumlah informasi mengenai pihak-pihak yang diduga terlibat juga telah disampaikan kepada penyidik.
“Iya, beberapa nama dan alamat sudah disampaikan kepada kepolisian. Harapan kita supaya cepat diproses dengan informasi yang sudah kita sampaikan,” katanya.
Sementara itu, Kasi Humas Polres Simalungun AKP Verry Purba membenarkan bahwa laporan tersebut telah diterima pihak kepolisian.
“Iya, sudah diterima,” kata Verry melalui WhatsApp, Rabu (2/09/2026).
Ketika ditanya mengenai perkembangan penanganan perkara tersebut, Verry menyebut proses masih berjalan.
“Masih diproses untuk penghunjukan penyidiknya,” ujarnya.
Dengan adanya laporan tersebut, keluarga kini menunggu langkah kepolisian untuk mengusut dugaan kekerasan yang dialami kedua siswa. Terlebih, keluarga menyebut kejadian tersebut tidak hanya menyebabkan luka fisik, tetapi juga meninggalkan trauma bagi para korban. ( Herry Sinaga )
