Simalungun – Semangat memperkenalkan budaya daerah ke panggung nasional ditunjukkan Tamara Sari Sipayung. Remaja 16 tahun asal Raya Huluan, Kecamatan Dolog Masagal, Kabupaten Simalungun, itu akan membawa nama Simalungun sekaligus Sumatera Utara dalam ajang Putri Remaja Indonesia 2026.
Siswi SMK Negeri Seni Budaya yang menekuni bidang kecantikan tersebut dijadwalkan mengikuti rangkaian kompetisi tingkat nasional pada 27 Oktober hingga 1 November 2026.
Bukan sekadar mengejar prestasi pribadi, Tamara telah menyiapkan identitas budaya Simalungun untuk diperkenalkan di hadapan peserta dari berbagai daerah dan dewan juri. Salah satu yang akan ditampilkannya adalah Tortor Simalungun.
“Senang bisa bawa Simalungun sampai nasional. Bangga,” ujar Tamara, Senin (17/8/2026).
Perjalanan Tamara menuju panggung nasional berawal dari keberaniannya mengikuti ajang pemilihan serupa di Kota Medan. Tak disangka, penampilannya berhasil meraih juara pada Grand Final sehingga mengantarkannya sebagai perwakilan untuk berkompetisi di tingkat nasional.
Saat ini, persiapan Tamara baru sekitar 40 persen. Ia masih fokus mematangkan berbagai kebutuhan kompetisi, termasuk materi advokasi yang menjadi salah satu bagian penting dalam ajang tersebut.
Menariknya, sebagian persiapan dilakukan Tamara secara mandiri. Mulai dari berlatih hingga mengumpulkan berbagai bahan yang nantinya akan menjadi materi penampilan.
“Latihan dan cari bahan sendiri untuk ditampilkan,” katanya.
Keikutsertaan Tamara pun terbilang berawal dari hal sederhana. Informasi mengenai ajang tersebut diperolehnya dari seorang teman sekelas melalui internet. Karena penasaran, ia kemudian mencoba mendaftarkan diri.
Tidak pernah terlintas sebelumnya bahwa langkah kecil itu justru membawanya menembus kompetisi tingkat nasional.
“Awalnya dapat informasi dari teman sekelas melalui internet, terus coba daftar. Ternyata bisa sampai nasional. Senang dan bangga,” tuturnya.
Bagi Tamara, kesempatan tersebut menjadi momentum untuk memperkenalkan Simalungun kepada masyarakat yang lebih luas. Ia ingin budaya daerah yang dibawanya tidak hanya menjadi bagian dari penampilan, tetapi juga menjadi identitas yang dikenali di panggung nasional.
Ia bahkan menyebut pencapaiannya sebagai sebuah kebanggaan tersendiri bagi Simalungun.
“Baru ini Simalungun pernah menang,” ujarnya.
Di balik perjuangan Tamara, terdapat dukungan besar dari keluarga. Boru Sinaga, orang tua Tamara yang sehari-hari bekerja sebagai petani, mengaku awalnya tidak menyangka putrinya mampu melangkah hingga ke tingkat nasional.
Menurutnya, keberhasilan tersebut menjadi kebahagiaan tersendiri bagi keluarga. Namun, persiapan menuju kompetisi nasional juga menghadirkan tantangan, terutama berkaitan dengan kebutuhan biaya.
“Gak nyangka memang bisa sampai sejauh ini, senang kali lah. Tapi terkejut juga dengan biaya sama persiapan yang harus disiapkan sampai sekarang ini,” ungkapnya.
Meski demikian, kondisi tersebut tidak menyurutkan dukungan keluarga. Mereka berharap Tamara dapat memanfaatkan kesempatan tersebut sebaik mungkin dan memberikan penampilan terbaik.
“Harapan yang terbaik dan membanggakan Simalungun,” kata Boru Sinaga.
Tamara kini terus mempersiapkan diri menghadapi persaingan di tingkat nasional. Ia berharap perjuangannya bukan hanya menghasilkan prestasi, tetapi juga menjadi kesempatan untuk membuat budaya Simalungun semakin dikenal.
Ia pun mengajak masyarakat Simalungun untuk memberikan doa dan dukungan selama dirinya mengikuti seluruh rangkaian ajang Putri Remaja Indonesia 2026.
“Mohon doa dan dukungan juga kepada seluruh masyarakat di Simalungun,” ucap Tamara. ( Herry Sinaga )
