Pematangsiantar, Lencanagaruda.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SD Negeri 122371 Pematangsiantar akhirnya dihentikan setelah mayoritas wali murid menyatakan keberatan melanjutkan program tersebut.
Sekolah yang berada di Jalan Kesatria, Kelurahan Siopat Suhu, Kecamatan Siantar Timur itu memiliki 144 siswa.
Keputusan penghentian MBG merupakan hasil rapat antara pihak sekolah dan para orang tua pada Jumat (11/9/2026).
Kepala SDN 122371 Pematangsiantar, Basaria Nainggolan, mengatakan munculnya kekhawatiran wali murid salah satunya dipicu kasus seorang siswa yang sempat mengalami diare,
informasi tersebut sebelumnya membuat orang tua siswa cemas.
Namun, setelah dilakukan penelusuran, keluhan kesehatan yang dialami siswa tersebut tidak berkaitan dengan makanan yang dibagikan melalui program MBG.
“Setelah ditelusuri, anak itu sakit karena makan mi instan, bukan karena makanan dari sekolah,” ujar Basaria saat ditemui di sekolah, Jumat (25/9/2026).
Meski penyebab sakit siswa tersebut bukan berasal dari menu MBG, kekhawatiran orang tua ternyata tetap berlanjut. Terlebih, pemberitaan mengenai dugaan keracunan makanan dalam pelaksanaan program MBG di sejumlah daerah turut menjadi perhatian para wali murid.
“Orang tua khawatir, mereka cemas karena melihat berita di beberapa daerah banyak yang keracunan,” katanya.
Dalam rapat yang digelar sekolah, mayoritas wali murid kemudian menyampaikan sikap tidak ingin program MBG dilanjutkan di sekolah tersebut.
Sekolah selanjutnya menyampaikan aspirasi tersebut kepada pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Siantar Timur 3. Setelah dilakukan komunikasi, penyaluran makanan MBG ke SDN 122371 dihentikan mulai Senin (14/9/2026).
Selain persoalan kekhawatiran terhadap keamanan makanan, persoalan lain yang menjadi sorotan wali murid adalah variasi menu yang diberikan kepada siswa.
Menurut Basaria, menu yang diterima siswa dinilai kurang beragam. Beberapa jenis makanan disebut cukup sering muncul, di antaranya buah salak dan telur.
“Pihak sekolah menilai menunya kurang bervariasi, lebih sering disajikan buah salak dan telur. Padahal anak-anak di usia ini butuh asupan gizi yang lebih beragam,” ujarnya.
Namun, keputusan penghentian MBG tersebut tidak sepenuhnya mendapat dukungan dari seluruh wali murid.
Basaria mengatakan, masih ada sebagian kecil orang tua yang menyayangkan program tersebut dihentikan. Mereka terutama berasal dari keluarga berpenghasilan rendah yang selama ini merasa terbantu dengan adanya makanan gratis bagi anak-anak mereka.
Dengan demikian, penghentian MBG di SDN 122371 bukan disebabkan adanya temuan bahwa makanan program tersebut terbukti menyebabkan siswa sakit. Keputusan tersebut lebih berkaitan dengan kekhawatiran mayoritas wali murid terhadap keamanan pangan serta penilaian terhadap variasi menu yang disediakan. ( Herry Sinaga )
