Simalungun, Lencanagaruda.com – Ingin merasakan sensasi memetik kelengkeng langsung dari pohonnya. Ada tempat yang menarik untuk dikunjungi di Huta Karang Tengah, Nagori Bah Jambi II, Kecamatan Tanah Jawa, Kabupaten Simalungun.
Di kebun milik Sri Mulyani tersebut, pengunjung tidak hanya bisa melihat hamparan tanaman kelengkeng, tetapi juga diperbolehkan masuk ke kebun tanpa tiket dan merasakan langsung pengalaman memetik buah dari pohonnya.
Konsep wisata yang ditawarkan cukup sederhana. Pengunjung datang, berkeliling melihat tanaman, memilih buah yang sudah matang, kemudian memetiknya sendiri.
Buah yang dipetik selanjutnya dibeli oleh pengunjung. Menariknya, tidak ada ketentuan minimal pembelian.
Konsep inilah yang membuat kebun kelengkeng Sri Mulyani tidak sekadar menjadi tempat produksi buah, tetapi mulai berkembang sebagai wisata petik buah berbasis kebun masyarakat.
Agar pengunjung tetap nyaman sekaligus tanaman tidak rusak, Sri menyiapkan pekerja untuk mendampingi mereka selama berada di dalam kebun.
Bagi keluarga, terutama yang ingin memberikan pengalaman berbeda kepada anak-anak, aktivitas memetik buah langsung dari pohonnya menjadi daya tarik tersendiri.
Namun, di balik konsep wisata tersebut, tersimpan cerita perjuangan yang tidak kalah menarik. Kebun itu mulai dikembangkan Sri sejak 2021. Saat pertama kali menanam kelengkeng, tidak sedikit orang yang meragukan keputusannya karena kondisi lahan dianggap kurang produktif.
Sri justru memilih membuktikan bahwa lahan tersebut masih bisa menghasilkan.
Tanpa latar belakang pertanian, ia mempelajari teknik budidaya kelengkeng secara mandiri melalui internet, video dan berbagai sumber lainnya.
Ia bahkan rutin mengecek kondisi tanah menggunakan alat ukur. Ketika tingkat keasaman tanah terlalu tinggi, Sri menggunakan dolomit untuk membantu menyesuaikannya.
Kerja keras itu akhirnya membuahkan hasil.Kini, kebun tersebut mampu menghasilkan sekitar 1 ton kelengkeng dalam periode panen tujuh bulan. Hasil produksinya juga telah memiliki pasar karena sejumlah agen dari Simalungun dan Pematangsiantar rutin datang membeli buah.
Di tengah aktivitas produksi tersebut, Sri melihat peluang lain: mengajak masyarakat datang langsung menikmati suasana kebun.
“Banyak yang tidak yakin. Tapi saya jalan terus, pelan-pelan sambil belajar sendiri,” kata Sri (7/10/2026).
Bagi Sri, wisata petik kelengkeng bukan semata-mata soal menjual buah. Ia ingin masyarakat bisa merasakan pengalaman berbeda datang ke kebun, melihat proses tanaman menghasilkan buah, kemudian memetik dan membawa pulang hasilnya sendiri.
Keberadaan wisata tersebut juga memberi dampak bagi warga sekitar. Sri merekrut masyarakat setempat untuk membantu mengelola kebun dan mendampingi pengunjung.
Dari lahan yang dahulu dianggap tidak menjanjikan, kini tumbuh peluang baru: pertanian, usaha buah sekaligus wisata.
Sri berharap kebun kelengkeng miliknya ke depan semakin dikenal masyarakat dan menjadi salah satu pilihan wisata buah bagi warga Simalungun, Pematangsiantar maupun daerah sekitarnya.
“Jangan berhenti belajar dan jangan gampang menyerah,” pesannya. ( Herry Sinaga )
