Pematangsiantar, Lencanagaruda.com – Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Pematangsiantar meluruskan informasi yang beredar terkait dugaan pengeroyokan terhadap seorang siswa SMP Negeri 12 Pematangsiantar berinisial N.
Disdik memastikan peristiwa yang terjadi bukan pengeroyokan seperti yang ramai diperbincangkan di media sosial. Insiden tersebut disebut bermula dari perselisihan antara dua siswa.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Pematangsiantar, Syaiful Rizal, mengatakan pihaknya telah turun tangan bersama pihak sekolah untuk memastikan persoalan tersebut tidak berkembang menjadi konflik yang lebih besar.
Menurutnya, informasi mengenai adanya pengeroyokan tidak sesuai dengan hasil penelusuran yang dilakukan pihak sekolah maupun Disdik.
“Banyak informasi yang beredar di luar itu tidak benar. Yang pertama, terkait isu pengeroyokan yang sempat viral, itu tidak ada. Yang terjadi sebenarnya adalah perselisihan antara dua orang siswa,” kata Syaiful saat ditemui, Sabtu (26/9/2026).
Ia menjelaskan, perselisihan tersebut berawal dari saling ejek yang menyangkut nama orang tua. Persoalan kemudian berkembang hingga terjadi insiden di lingkungan sekolah.
Mengetahui kejadian tersebut, pihak sekolah bersama Disdik langsung mengambil langkah dengan mempertemukan orang tua kedua siswa untuk mencari penyelesaian.
Upaya mediasi akhirnya menghasilkan kesepakatan damai. Kedua belah pihak sepakat menyelesaikan persoalan secara kekeluargaan.
“Pihak sekolah sudah mengantisipasi dan memediasi. Tadi orang tua dari korban maupun pelaku sudah bertemu dan sepakat menyelesaikan persoalan ini secara kekeluargaan,” ujar Syaiful.
Selain perdamaian, orang tua siswa yang terlibat dalam insiden tersebut juga menyatakan kesediaannya menanggung biaya pengobatan siswa yang mengalami luka.
Meski persoalan telah diselesaikan secara kekeluargaan, Disdik tidak berhenti pada proses perdamaian. Pendampingan terhadap para siswa juga akan dilakukan untuk memastikan kejadian tersebut tidak meninggalkan dampak berkepanjangan.
Disdik akan berkoordinasi dengan Dinas Sosial Kota Pematangsiantar guna memberikan pendampingan psikologis kepada siswa yang terlibat.
Langkah tersebut dinilai penting agar kondisi mental dan fisik para siswa tetap terjaga serta tidak mengganggu aktivitas mereka dalam mengikuti proses pembelajaran di sekolah.
Syaiful juga meminta masyarakat, khususnya pengguna media sosial, tidak lagi menyebarkan rekaman video terkait insiden tersebut.
Menurutnya, penyebaran video dapat memberikan tekanan psikologis kepada anak-anak yang terlibat dan berpotensi memperpanjang persoalan yang telah diselesaikan.
“Kami sangat berharap video-video yang sempat beredar tidak disebarluaskan lagi karena berpengaruh besar terhadap psikis dan beban mental anak-anak kita,” katanya.
Disdik, lanjut Syaiful, akan terus melakukan pengawasan dan mendorong pihak sekolah agar kejadian serupa tidak kembali terjadi di lingkungan pendidikan Kota Pematangsiantar.
“Kami juga berkomitmen agar kejadian serupa tidak terulang kembali di lingkungan pendidikan Kota Pematangsiantar,” pungkasnya. ( Herry Sinaga )
