Simalungun, Lencanagaruda.com – Puluhan tahun menanti perbaikan, warga Nagori Bayu Muslimin, Kecamatan Tapian Dolok, Kabupaten Simalungun, akhirnya memilih bergotong royong memperbaiki jalan rusak menggunakan tenaga dan biaya sendiri.
Jalan yang dibuka sejak 1962 itu hingga kini belum mendapat perbaikan menyeluruh. Saat hujan turun, jalan tanah dan batu padas berubah licin, menyulitkan pengendara yang melintas.
Pangulu Bayu Muslimin, Amat Simbolon, mengatakan warga rutin bergotong royong setiap Senin dan Kamis. Dalam tiga tahun terakhir, mereka telah memperbaiki sekitar empat kilometer jalan. Namun, masih ada lebih dari 10 kilometer yang membutuhkan penanganan.
“Iya, sudah dibebaskan dari Bridgestone untuk pembangunan jalan dari Ranggasan menuju Dolok Ulu. Jadi, sudah dapat dibangun. Proposal juga sudah kita sampaikan ke Gubernur, semoga dibantu,” kata Amat, Rabu (14/10/2026).
Ia berharap Pemerintah Kabupaten Simalungun dan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara memberikan perhatian agar pembangunan jalan segera terealisasi.
“Mohonlah bantuan agar jalan kami ini diperhatikan dan dibantu perbaikannya. Ini sudah mulai tahun 1962,” ujarnya.
Pantauan di lapangan, jarak dari Kantor Camat Tapian Dolok menuju Bayu Muslimin sekitar 15 kilometer dengan waktu tempuh kurang lebih 50 menit menggunakan sepeda motor. Sebagian besar ruas jalan masih berupa tanah dan batu padas.
Seorang pemuda setempat mengaku kerusakan jalan sudah berlangsung sejak lama, bahkan sebelum dirinya lahir.
“Iya, sudah lama kali jalan kami ini seperti ini. Sebelum awak lahir pun sudah gitu,” katanya.
Keluhan serupa disampaikan Alwi, pedagang bakso keliling yang setiap hari melewati jalan tersebut untuk mencari nafkah. Ia mengaku tetap berjualan meski harus menghadapi risiko saat melintasi jalan rusak.
“Sudah tiap hari lewat jalan rusak, tapi ya namanya cari makan,” ucapnya.
Alwi berharap perbaikan segera dilakukan agar perjalanan lebih cepat dan aman, terutama ketika hujan membuat permukaan jalan licin akibat tanah liat dan batu yang terlepas.
Gotong royong warga selama tiga tahun menjadi bukti kepedulian mereka terhadap akses kampung. Namun, dengan masih panjangnya ruas jalan yang rusak, masyarakat berharap pemerintah segera turun tangan agar beban perbaikan tidak terus ditanggung sendiri oleh warga. ( Herry Sinaga )
