Pematangsiantar, Lencanagaruda.com – Lahan seluas 600 meter persegi di Kecamatan Siantar Martoba, Kota Pematangsiantar, kini menawarkan pengalaman berbeda bagi masyarakat.
Bukan sekadar melihat tanaman tumbuh, pengunjung bisa masuk ke kebun, mencicipi melon langsung dari pohonnya, hingga membawa pulang buah segar dengan harga Rp45.000 per kilogram.
Kebun tersebut bernama Melonkholis Farm, yang dikelola Ismail Syahrizal Harahap bersama rekannya. Berlokasi di Jalan Letda Usmansjah Saragih, Kelurahan Tanjung Tongah, usaha ini bermula dari ketertarikan terhadap tanaman yang dikembangkan di pekarangan rumah.
Berbekal proses belajar secara mandiri, Ismail dan rekannya kemudian mengembangkan budidaya melon menggunakan teknik hidroponik. Upaya itu perlahan berkembang menjadi usaha pertanian modern yang tidak hanya berorientasi pada hasil panen, tetapi juga membuka peluang wisata edukasi bagi masyarakat.
Saat ditemui di kebunnya, Ismail mengatakan mereka saat ini membudidayakan sekitar 845 tanaman melon dari varietas Vietnam V95 Promax.
“Sekarang kami menanam sekitar 845 benih melon hidroponik dengan varietas Vietnam V95 Promax,” ujarnya, Rabu (14/10/2026).
Momen panen perdana menjadi kesempatan bagi Ismail untuk memperkenalkan hasil budidayanya kepada masyarakat. Ia membuka kebun tersebut sebagai tempat wisata petik melon, sehingga pengunjung dapat merasakan pengalaman memanen buah secara langsung.
Awalnya, kegiatan itu hanya dijadwalkan pada Minggu (11/10/2026). Namun, tingginya minat masyarakat membuat pengelola memperpanjang kesempatan berkunjung hingga Jumat (16/10/2026).
Melonkholis Farm dibuka setiap hari selama periode tersebut, mulai pukul 07.30 hingga 18.00 WIB.
Pengunjung juga mendapat kesempatan mencicipi melon secara gratis selama berada di dalam kebun. Sementara itu, bagi mereka yang ingin membawa pulang buah hasil petikan, pengelola menetapkan harga Rp45.000 per kilogram.
“Kami berikan pengunjung untuk mencicipi melon setiap yang datang berkunjung.Untuk buah yang dipetik dan dibawa pulang, harganya Rp45.000 per kilogram,” kata Ismail.
Konsep tersebut memberikan pengalaman berbeda dibandingkan membeli buah di pasar atau toko buah. Pengunjung dapat melihat langsung tanaman yang menghasilkan buah, memilih melon yang ingin dipetik, sekaligus menikmati suasana kebun.
Kehadiran Melonkholis Farm tidak hanya menawarkan kegiatan rekreasi. Kebun ini juga berpotensi menjadi ruang pembelajaran terbuka bagi anak-anak dan pelajar untuk mengenal dunia pertanian modern.
Melalui budidaya hidroponik, pengunjung dapat melihat bagaimana tanaman dikembangkan tanpa menggunakan tanah sebagai media tanam utama. Pengalaman tersebut dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan proses pertumbuhan tanaman, perawatan, hingga pemanenan buah.
Konsep wisata edukasi seperti ini juga memberi alternatif kegiatan bagi keluarga yang ingin mengajak anak-anak belajar di luar lingkungan sekolah.
Selain itu, pengembangan kebun menjadi destinasi petik melon menunjukkan bahwa pertanian dapat dipadukan dengan kegiatan wisata. Hasil budidaya tidak hanya dipasarkan sebagai komoditas pangan, tetapi juga menjadi bagian dari pengalaman yang dapat dinikmati langsung oleh konsumen.
Bagi Ismail dan rekannya, langkah tersebut menjadi upaya mengembangkan usaha pertanian agar memiliki nilai tambah sekaligus memperkenalkan metode budidaya yang mereka tekuni kepada masyarakat.
Dari pekarangan rumah hingga menjadi kebun yang dikunjungi warga, perjalanan Melonkholis Farm memperlihatkan bahwa lahan terbatas pun dapat dikembangkan menjadi usaha produktif melalui pengetahuan, ketekunan, dan inovasi.
Di tengah meningkatnya ketertarikan masyarakat terhadap pengalaman wisata yang berbeda, kebun melon hidroponik di Tanjung Tongah ini menghadirkan pilihan sederhana: menikmati buah segar, memetik langsung dari tanaman, sekaligus mengenal pertanian modern lebih dekat. ( Herry Sinaga )
