Pematangsiantar, Lencanagaruda.com – Sistem palang pintu otomatis di area keluar Rumah Sakit (RS) Efarina Pematangsiantar, Jalan Pdt Wismar Saragih, Kelurahan Bane, Kecamatan Siantar Utara, menjadi sorotan setelah seorang keluarga pasien mengalami luka akibat tertimpa portal, Rabu (2/09/2026) pagi.
Korban diketahui bernama Amoi Manullang (36). Insiden tersebut terjadi sekitar pukul 08.00 WIB ketika korban hendak meninggalkan area rumah sakit setelah bergantian menjaga anaknya yang tengah menjalani perawatan.
Menurut suami korban, Frengki Siagian, kejadian berlangsung secara tiba-tiba. Saat istrinya melintas di jalur keluar, palang portal otomatis disebut mendadak bergerak turun hingga menghantam tubuh korban.
Benturan tersebut mengakibatkan Amoi mengalami sejumlah luka pada bagian wajah dan mulut.
“Bibirnya pecah, mata sebelah kiri bengkak, kemudian giginya juga sampai goyang akibat terkena palang,” ujar Frengki.
Persoalan kemudian tidak berhenti pada insiden tersebut. Frengki mengaku kecewa terhadap respons petugas parkir yang berada di lokasi.
Ia menyebut petugas bernama Mindo Simbolon justru menyatakan kejadian tersebut merupakan kesalahan korban.
Frengki juga mengaku mendapat respons yang dinilainya tidak menunjukkan empati ketika menyampaikan rencana untuk melaporkan kejadian tersebut.
“Ketika kami bilang akan melaporkan, dia malah mengatakan, ‘laporkanlah’. Katanya ini murni kesalahan istri saya,” ungkap Frengki.
Keluarga korban juga meminta rekaman kamera pengawas (CCTV) di sekitar portal untuk mengetahui secara pasti bagaimana palang tersebut menghantam korban. Namun, permintaan itu disebut tidak dapat dipenuhi.
Ironisnya, pihak manajemen RS Efarina kemudian mengungkap bahwa CCTV di lokasi portal ternyata sedang tidak merekam ketika insiden terjadi.
Humas dan Marketing RS Efarina Pematangsiantar, Freddy Simanjuntak, membenarkan adanya insiden tersebut.
Freddy menjelaskan, pengoperasian sistem portal parkir di lingkungan rumah sakit merupakan tanggung jawab pihak ketiga, yakni vendor pengelola parkir.
Meski demikian, pihak rumah sakit menyayangkan sikap petugas yang berkomunikasi dengan keluarga korban.
Menurut Freddy, dirinya bahkan baru mengetahui bahwa kejadian serupa disebut pernah dialami karyawan rumah sakit sebelumnya.
“Saya juga baru dengar hari ini, ternyata kejadian serupa pernah terjadi kepada karyawan rumah sakit. Kalau saya berada di posisi korban, saya juga akan marah jika mendapat ucapan seperti itu,” kata Freddy, Rabu (2/09/2026) siang.
Terkait permintaan keluarga untuk melihat CCTV, Freddy mengatakan rekaman di area portal saat kejadian tidak tersedia karena kamera pengawas tersebut sedang tidak merekam.
“Memang CCTV saat ini sedang tidak merekam. Namun, kami menyayangkan sikap dan ucapan petugas yang berjaga saat kejadian,” ujarnya, Rabu (2/09/2026).
Freddy mengatakan korban seharusnya segera mendapatkan penanganan medis dari pihak rumah sakit setelah mengalami insiden.
Untuk biaya pemeriksaan maupun pengobatan yang timbul akibat kejadian tersebut, pihak rumah sakit akan berkoordinasi dengan vendor pengelola parkir.
Manajemen RS Efarina juga berencana memanggil pihak vendor untuk meminta pertanggungjawaban sekaligus mengevaluasi sistem portal.
Evaluasi akan mencakup kemungkinan adanya persoalan teknis, termasuk pengaturan waktu atau timer, maupun sistem bawaan mesin yang menyebabkan palang turun ketika korban masih berada di jalur keluar.
“Kami tentu akan memanggil pihak vendor untuk bertanggung jawab atas kejadian ini. Kami juga akan mengevaluasi apakah terdapat masalah teknis pada portal, termasuk setelan timer atau default mesin,” jelas Freddy.
Selain aspek teknis, pihak rumah sakit juga meminta vendor mengevaluasi perilaku petugas di lapangan agar kejadian serupa tidak kembali menimbulkan persoalan dengan pengunjung maupun keluarga pasien.
Sementara itu, Manajer Parkir PT Fan Solusindo selaku vendor pengelola parkir, Dedi, menyatakan pihaknya siap menyelesaikan persoalan tersebut melalui musyawarah.
Menurutnya, pihak vendor sedang melakukan investigasi internal dengan meminta keterangan dari petugas yang berada di lapangan serta mencocokkannya dengan keterangan keluarga korban.
“Kami meminta keluarga korban bertemu langsung dengan kami supaya persoalan ini bisa ditangani dengan baik. Kami sedang melakukan penelusuran internal,” kata Dedi.
Ia memastikan pihak vendor tidak menutup diri terhadap kemungkinan adanya kelalaian petugas maupun gangguan pada sistem portal.
“Kalau dari hasil penelusuran memang ada kelalaian anggota kami atau gangguan pada alat, tentu kami akan bertanggung jawab penuh atas kejadian ini,” tegasnya.
Insiden ini kini menyisakan sejumlah pertanyaan, terutama mengenai keamanan operasional portal otomatis, pengawasan petugas parkir, hingga tidak berfungsinya CCTV di titik yang menjadi lokasi kejadian. ( Herry Sinaga )
